Tanggal : 18-11-2014 22:01, dibaca 598 kali.

Oleh :Admin

Tiga Langkah Mudah Untuk Migrasi Ke Linux dari Windows


Oleh: Irlan G - www.kompasiana.com/irlan

Sekitar tahun 2004 saya berkunjung ke rumah kakak saya, seorang dokter. Dia memiliki pengetahuan komputer yang jauh lebih baik daripada saya. Ketika berkunjung ke rumahnya, saya diajak ke  ruang kerjanya. Disana dia memamerkan komputernya. Sebenarnya spesifikasi komputernya biasa saja. Modelnya pun tidak berbeda dengan model komputer lain yang pernah saya lihat. Monitornya juga masih berlayar cembung 14″. Namun saya tercengang ketika dia menunjukkan kemampuan grafis yang tidak pernah saya lihat sebelumnya. Dengan kombinasi tekanan tombol tertentu, desktopnya bisa berganti-ganti dengan animasi seperti kita memutar-mutar sebuah kubus. Saya sangat terkesan dan serta merta bertanya aplikasi apa yang dia gunakan. Dipikiran saya, ini pasti sebuah aplikasi pihak ketiga dari sistem operasi Windows untuk mempercantik tampilan desktop. Tapi saya keliru.

“Ini bukan Windows. Ini Linux,” katanya.

Itulah pertamakalinya saya melihat sistem operasi bernama Linux itu. Saya memang sudah pernah mendengar nama itu sebelumnya, tapi belum pernah melihat penampilannya secara langsung. Sejak itu saya jadi tertarik dengan Linux. Saya mulai mencari informasi tentang Linux, terutama dari internet. Belakangan saya baru tahu bahwa Linux itu adalah kernelnya. Sistem operasinya sendiri – yang dibangun dari kernel Linux – ada banyak sekali.

Ketertarikan itu kemudian memunculkan keinginan untuk mencoba sendiri Linux. Sayangnya, saya tidak punya PC. Saya hanya menggunakan komputer di kantor, dengan sistem operasi Windows. Tapi itu tidak menyurutkan semangat saya untuk belajar tentang Linux.

Kemudian saya mengenal apa yang disebut Live CD. Menurut saya, ini ide yang sangat cemerlang untuk memperkenalkan suatu sistem operasi baru. Dengan Live CD saya bisa mencoba beragam jenis distro Linux tanpa perlu menginstalnya pada PC dan kuatir kehilangan data-data penting di komputer saya. Live CD itu ibarat test drive untuk mobil, atau tester untuk penjualan kue. Kita bisa melihat-lihat dan mencoba suatu sistem operasi terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk menggunakannya.

Banyak orang yang ragu menggunakan Linux. Salah satu alasan klasik yang paling sering dikemukakan adalah, “Linux itu susah.” Padahal, Linux sebenarnya tidaklah sesulit yang dibayangkan orang.

Sekarang, cobalah Anda bertanya kepada para pemakai smartphone Android. Atau mungkin Anda sendiri juga menggunakan smartphone Android, seperti seri Galaxy-nya Samsung. Menurut Anda atau mereka, apakah ponsel Android itu susah digunakan?

Tahukah Anda inti sistem operasi smartphone Android yang sebenarnya? Android dikembangkan dari kernel Linux.

Jadi, semudah Anda berpindah dari Blackberry atau iPhone atau Symbian ke Android, semudah itu pula sebenarnya Anda bisa berpindah dari sistem operasi lain ke Linux.

Jika Anda memang tertarik untuk mencoba Linux, saya ingin membagi tips agar perpindahan Anda ke Linux tidak akan membuat Anda kelimpungan dan akhirnya tidak bisa bekerja lagi. Cobalah tiga langkah yang juga sudah pernah saya lakukan berikut ini:

Langkah pertama (pada komputer Windows milik Anda):

Catat dan perhatikan aplikasi-aplikasi yang paling sering Anda gunakan pada Windows. Pada umumnya, aplikasi yang paling sering digunakan antara lain:

Web Browser: Internet Explorer

Office Suite: MS Office

E­mail: Outlook/Outlook Express

Edit Gambar: Corel Draw

Manipulasi Foto: Photoshop

Penerbitan: InDesign

File Manager: Windows Explorer

Pembakar CD/DVD Burner: Nero

CD/DVD Player: Windows Media Player atau PowerDVD

Sebagaimana yang mungkin sudah Anda tahu, beberapa aplikasi tersedia pada Windows secara default, misalnya Internet Explorer, Outlook Express, dan Windows Media Player. Aplikasi yang lain harus diinstal kemudian, tetapi untuk memperoleh versi penuh Anda harus membeli lisensinya. Harganya bervariasi mulai dari yang murah (seperti WinRAR) hingga yang mahal (seperti Corel Draw dan Photoshop).

Langkah Kedua (masih pada komputer Windows Anda):

Mulailah mencari dan mengganti aplikasi yang paling sering Anda gunakan dengan aplikasi lain yang sejenis namun bersifat Open Source. Mengapa Open Source? Karena pada umumnya aplikasi Open Source bersifat multi platform. Aplikasi Open Source biasanya tersedia untuk platform Windows, Linux, bahkan Mac. Pelajari cara menggunakan aplikasi-aplikasi ini, baik dengan cara trial and error maupun mencari tutorialnya di internet. Tahap ini penting agar supaya ketika Anda pindah ke Linux, perpindahan itu akan terasa mudah. Aplikasi Open Source juga pada umumnya gratis, sehingga bisa menghemat uang Anda.

Web Browser: Firefox, Chrome

Office Suite: OpenOffice, Lotus Symphony

E­mail: Thunderbird

Edit Gambar: Inkscape

Manipulasi Foto: GIMP

Penerbitan: Scribus

File Manager: Explorer

Pembakar CD/DVD Burner: ImgBurn

CD/DVD Player: VLC

File Arsip Manager: 7Zip

Langkah ketiga: Pindah ke Linux

Ketika akhirnya Anda pindah ke Linux, Anda sudah mengetahui aplikasi apa yang bisa Anda gunakan untuk bekerja dan bahkan Anda sudah terbiasa menggunakannya juga. Sebagai contoh, cobalah Anda perhatikan beberapa aplikasi yang tersedia untuk Linux Ubuntu. Dan perhatikan bahwa aplikasi-aplikasi tersebut sebenarnya tersedia pula versi Windowsnya, sehingga Anda tidak akan bingung lagi menggunakannya.

Di Linux Anda bahkan bisa menemukan banyak sekali aplikasi sejenis yang memiliki kemampuan setara dan semuanya tersedia secara gratis. Anda bisa mencoba semuanya, dan pada akhirnya memilih satu aplikasi favorit Anda.

Salah satu alamat web yang bisa Anda kunjungi untuk mencari informasi mengenai alternatif pengganti aplikasi Windows ada disini.

Sekarang, Anda siap menggunakan Linux.

Nikmatilah perjalanan Anda bersama Linux!

http://teknologi.kompasiana.com/terapan/2013/02/18/tiga-langkah-mudah-untuk-migrasi-ke-linux-530173.html 


Share This Post To :

Facebook | Twitter | Google